Politik

Pemilu Legislatif 2019, Bagaimana Pemberlakuan Sistemnya oleh KPU?

February 6, 2019

Pemilu legislatif 2019 yang bersamaan dengan pilpres sudah berada di pelupuk mata. Berbagai kampanye hingga debat pun sudah gencar dilakukan oleh para calon-calonnya. Berbeda dengan pemilu sebelumnya, untuk mendapatkan kursi dan berhasil menempati kantor di kawasan Senayan nantinya, para caleg harus beradaptasi dengan berbagai macam hal serta mempersiapkannya. Seperti beberapa sistem dan hal berikut ini yang tentunya harus diikuti oleh semua caleg.

Punya Strategi yang Matang

Memang, suara terbanyak atau suara mayoritas bisa mengantarkan caleg kepada kursi DPR dan kursi legislatif lainnya. Namun ternyata, hal itu pun tidak cukup. Pasalnya, saat ini setiap caleg perlu melakukan persiapan hal-hal dan strategi yang sangat matang. Dari mulai beradaptasi dengan kampanye partai hingga tim pemenangannya. Tak hanya strategi dan adaptasi, kondisi daerah pemilihan, kesiapan administrasi, hingga kebutuhan finansial pun perlu disiapkan dengan benar-benar.

Menggunakan Sistem Pemilu Terbuka

Pada dasarnya, sistem pemilu terbuka pun sudah berjalan semenjak 2009 lalu. Bedanya, sistem saat ini mampu memberikan peluang bagi para caleg untuk mendapatkan suara terbanyak agar bisa jadi anggota DPR meskipun bukan berada pada urutan paling atas.

Sistem ini pun berpengaruh pada modal awal untuk mencalonkan presiden yang mana partai pengusung harus berusaha untuk menyesuaikan kebutuhan suaranya sesuai ketetapan. Hal ini disebut juga sebagai isu ambang batas presiden yang nantinya akan berada pada angka 20 persen suara di kursi DPR atau sekitar 25 persennya dari suara sah skala nasional. Selain itu, ada juga ambang batas parlemen yang sangat berpengaruh untuk pemilu legislatif 2019 yang dimaksudkan untuk mengatur syarat parpol agar bisa lolo ke DPR/DPRD.

Konvensi Suara

Pada pemilu 2019 pun akan diadakan sebuah metode konversi suara berbeda yang akan digunakan untuk menentukan caleg terpilih. Jika sebelumnya menggunakan sistem hitung Quote Harre atau BPP (bilangan pembagi pemilih) yang dalam perhitungannya adalah jumlah suara dibagi dengan jumlah kursi dalam suatu dapil.

Sedangkan untuk tahun 2019 adalah sistem Saint League Murni dengan menggunakan angka pembagi yang dipakai untuk mengalokasikan kursi yang didapat setiap parpol di setiap dapilnya. Angka yang digunakan sebagai pembagi pun adalah angka-angka ganjil, sehingga nantinya jumlah suara yang sudah dibagi itu akan menentukan siapa saja partai atau caleg yang akan lolos.

Hal ini pun merupakan keuntungan tersendiri bagi beberapa kalangan. Pasalnya, metode yang digunakan pada sistem konvensi pemilu yang lalu ini seringkali diklaim merugikan partai besar karena haknya jadi terkurangi sebab harus dilempar pada partai yang punya suara lebih karena asas pembagian pemilih itu. Itulah yang menyebabkan adanya perubahan. Meskipun demikian, tetap saja, pemilu legislatif 2019 tidak boleh mencederai kejujuran, bukan?

No Comments

Leave a Reply